Kisah Tentang Malala Yousafzai, Peraih Nobel Termuda
Dapatkan link
Facebook
X
Pinterest
Email
Aplikasi Lainnya
Kisah Tentang Malala Yousafzai, Peraih Nobel Termuda
Esti Utami
Malala Yousafzai, peraih Nobel Perdamaian 2014 karena memperjuangkan pendidikan bagi kaum perempuan. (Reuters/Carlo Allegri)
Peluru dan ancaman keselamatan tak menyurutkannya.
Suara.com - Dua tahun lalu, tepatnya pada 9 Oktober 2012, Malala Yousafzai yang saat itu berusia 15 tahun meregang nyawa, karena mengalami luka tembak yang cukup serius di kepalanya.
Hari itu, seorang laki-laki bersenjata dengan mengenakan topeng memasuki bus sekolah yang ditumpangi Malala, di Pakistan barat laut. Tanpa babibu laki-laki itu langsung melepaskan serangkaian tembakan ke arah Malala. Upaya pembunuhan ini diperintahkan oleh kelompok Taliban, karena Malala berani menyuarakan hak anak-anak perempuan untuk pergi ke sekolah.
Malala sempat koma beberapa minggu, tetapi ia selamat. Dan kejadian itu tak mengundurkan niat Malala untuk memperjuangkan hak pendidikan bagi perempuan. Setelah insiden ini, Malala tak hanya memperjuangkan pendidikan bagi perempuan di Pakistan, tetapi seluruh perempuan di dunia. Ia antara lain mendirikan Malala Fund, yang banyak mendampingi kegiatan advokasi bagi hak-hak perempuan.
Ia juga menguatkan perempuan di seluruh dunia melalui kampanye di media sosial lewat tagar #Strongerthan.
Sembilan bulan setelah tragedi itu, Malala bersuara lantang, di panggung dunia. “Mereka berpikir peluru itu akan membuat kita takut. Tetapi mereka gagal. Dan dari kebisuan itu akan muncul ribuan suara. Kelemahan, ketakutan dan ketidak-berdayaan justru mati. Sebaliknya kekuatan dan keberanian dilahirkan," ujarnya saat itu.
Dan tepat dua tahun setelah tragedi yang hampir merengut nyawanya, Malala yang kini berumur 17 tahun dianguerahi Nobel Perdamaian bersama Kailash Satyarthi, seorang aktivis hak-hak anak dari India.
Malala, yang kini menjadi siswa kelas sepuluh di sebuah sekolah di Birmingham, Inggris ini adalah peraih Nobel termuda sepanjang sejarah. Di usianya yang masih belia, Malala telah menjadi advokat bagi pendidikan global. Meski belum sepenuhnya bebas dari ancaman kelompok Taliban yang mengharamkan pendidikan bagi perempuan, ia terus menyuarakan perjuangannya ke seluruh dunia.
Sebagai ketua lembaga nirlaba Malala Fund, dia berkeliling dunia. Awal tahun ini ia mengunjungi ke Yordania untuk bertemu dengan para pengungsi Suriah di sana. Dan di hari ulang tahunnya yang ke-17, Malala memilih berkunjung ke Nigeria, untuk memperjuangkan pembebasan ratusan siswi madasrah yang diculik diculik kelompok Boko Haram di Chibok.
Ia juga melobi pemimpin dunia untuk menghibahkan dana mereka untuk membantu pendidikan dan pemberdayaan jutaan gadis yang ditolak dari bangku sekolah. Menurutnya, pendidikan bagi perempuan adalah cara terbaik untuk memerangi kemiskinan, pengabaian dan terorisme. Tahun ini merupakan untuk kedua kalinya, Malala dinominasikan untuk sebagai peraih Nobel Perdamaian.
Nominasi tahun lalu dan akhirnya ditetapkannya Malala sebagai pemenang bersama, oleh banyak kalangan dinilai layak untuk perempuan kelahiran 12 Juli 1997 ini.  Ia tak hanya aktif memperjuangkan pendidikan bagi kaumnya di Pakistan tetapi juga untuk perempuan di seluruh dunia.
September 2013, misalnya Malala menemui Presiden AS Barack Obama, meminta penghentian serangan pesawat tak berawak di Pakistan.
Ia juga aktif memperjuangkan nasib pengungsi Suriah, khususnya untuk mencegah generasi yang hilang. Malala menyerukan kepada masyarakat dunia untuk Meningkatkan pendanaan dan bantuan bagi mereka.
Pada bulan Juni lalu, Malala Fund mendukung Kemitraan Global untuk Pendidikan, dan berhasil mengumpulkan komitmen senilai lebih dari 28 miliar dolar, untuk fokus pada pendidikan anak perempuan. (abc.news.com.)
( sumber : https://www.suara.com/lifestyle/2014/10/10/184937/kisah-tentang-malala-yousafzai-peraih-nobel-termuda)
Assalamualaikum, Hai, disini saya ingin cerita sedikit tentang fenomena dari kenakalan remaja saat ini. bukan hanya remaja, bahkan anak kecil yang seharusnya hanya mengerti tentang pelajaran dan bermain, mereka sudah pandai dalam hal konteks dewasa yang berbau negatif. sebagai contoh, di lingkungan tempat tinggal saya sendiri, di daerah pontianak, saya melihat sekumpulan anak kecil antara 7-12 tahun merokok dan lebih buruknya lagi mereka belajar dari orang dewasa yang berada disekitar mereka. sebagai mahasiswi sekaligus perempuan, saya amat prihatin dengan peradaban jaman sekarang. peradaban dimana telah disediakannya segala jenis fasilitas dari kemajuan teknologi dan kitalah sebagai generasi baru yang harus memanfaatkan dan mengelolah dengan sebaik-baiknya. menurut hasil survey DEmografi Kesehatan Indonesia (SDKI 2007) jumlah remaja di Indonesia mencapai 30% dari jumlah penduduk indonesia, yakni sekitar 1,2 juta jiwa. Bayangkan jika mereka menempuh jenjang pendidikan, tentu menjadi a...
5 Orang dengan Cacat Fisik Jadi Tontonan Sirkus di Masa Lalu, Siapa Mereka? 0 Memiliki kondisi fisik yang tidak biasa membuat mereka dijadikan tontonan di pagelaran sirkus. Liputan6.com, Jakarta - Hingga kini, masih banyak orang yang suka mengunjungi sebuah sirkus untuk menyaksikan pertunjukan atau akrobat tak biasa. Pertunjukan yang menarik menjadi salah satu alasan orang gemar menonton sirkus. Namun tidak seperti sirkus sekarang. Pagelaran sirkus zaman dulu sangatlah berbeda dan terkesan mengerikan. Pasalnya, banyak penyelenggara sirkus di zaman dulu tidak hanya menampilkan atraksi, tapi mereka juga menampilkan orang-orang yang mengalami kondisi tidak wajar atau kondisi langka. Berikut enam orang terlahir dengan kondisi langka yang menjadi tontonan di pagelaran sirkus masa lalu. 1 dari 6 halaman 1. Si Kembar Pip dan Flip Memiliki kondisi fisik yang tidak biasa membuat mereka dija...
Balita Tewas Dekat Jasad Ayah yang Gantung Diri di Pohon Mahoni ilustrasi gambar (iStockPhoto) Liputan6.com, Sukabumi - Seorang balita bernama Rafi (2,5) ditemukan tak bernyawa di Gunung Sampai, Kampung Legok Arey, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Tak jauh dari tubuh balita itu, ayahnya ditemukan tewas tergantung di pohon mahoni. Dilansir Antara , Dede Bemo, tetangga korban, mengungkapkan jasad balita itu ditemukan kakeknya di dekat pohon mahoni di Desa Cijangkar, Kecamatan Nyalindung, Sukabumi, pada Jumat, 23 Maret 2018, pukul 05.30 WIB. Sang kakek sebelumnya mencari cucunya itu berbekal senter. Gorong-gorong dan rimbunan pohon diperiksa satu per satu. Kemudian, kakek korban naik ke Gunung Sampai dan menemukan cucunya tergeletak di bawah pohon mahoni. Spontan, sang kakek berteriak hingga mengundang perhatian warga yang langsung melarikan Rafi ke rumah sakit. Ternyata dari hasil visum terdapat luka bekas cekikan ditambah goresan bekas k...
Komentar
Posting Komentar